Aktualisasi Pemuda dalam Moderasi beragama di Indonesia

Oleh Hilda Nurhidayah

Akhir- akhir ini kita tidak asing bahkan sering mendengar dengan istilah kata moderasi dalam beragama. Para Tokoh-tokoh pemuka agama, Politik dan penjabat sipil negara kerap kali menggaungkan kata moderasi di setiap acara, sebab isu moderasi beragama ini sangat menarik bahkan sangat penting untuk dibahas. Karena akhir-akhir ini di Indonesia tersebar paham radikalisme yang sifatnya anarkis yang bisa memecahkan kerukunan rakyat indonesia bahkan bisa mennimbulkan perpecahan di NKRI. Tak jarang juga kata moderasi sering dikaitkan dengan para pemuda. Kenapa harus dikaitkan dengan para pemuda? Sebab para pemuda sangat rentan terpapar paham radikalisme. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya pemuda merupakan aset emasnya suatu negara, gambaran masa depan suatu negara ada di tangan generasi pemuda. Maka sudah sangat jelas bahwa pemuda mempunyai peranan besar dalam menjaga keutuhan NKRI. Salah satunya yaitu dengan menyebarkan isu-isu keagaaman yang moderat.

Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik pasti mengetahui bahwasanya Negara indonesia ini merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Indonesia dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 260 juta, yang terdiri atas 1.331 suku, 652 bahasa lokal dan 6 agama (yang diakui oleh pemerintah) telah mampu menjaga harmoni kerukunan umat dengan kekuatan local wisdom (kearifan lokal). Hal ini menunjukkan bahwa indonesia sebagai bangsa yang besar, meiliki budaya hidup yang tinggi dan berpotensi sebagai negara yang hebat dan maju. Sejarah telah membuktikan bagaimana bangsa ini telah berupaya semaksimal mungkin menjaga kebersamaan sehingga tidak muncul kekacauan dalam skala besar dan panjang. ( Thobib Al-Asyhar 2019:169 )

Presiden Republik Indonesia Ir. Joko widodo dalam sebuah acara Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Istana Bogor, Jawa Barat pada tahun 2018 pernah mengatakan “bahwa Idonesia merupakan jendela toleransi dunia karena pengalaman panjang melaksanakan moderasi beragama yang dapat ditularkan keoada dunia. Indonesia harus mampu menjaga kemajemukan agama, keyakinan, budaya, bahasa, warna kulit dan lain-lain.” Dan perlu kita ketahui bahwa acara ini merupakan salah satu momentum penting Indonesia “bercerita” kepada dunia. Mungkin tidak ada negara di dunia ini dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi seperti Indonesia.

Tugas kita khususnya para pemuda saat ini adalah menjaga stabilitas perdamaian dan keutuhan NKRI. Jangan mudah tersulut api amarah oleh kaum yang ingin memecah belah. Indonesia belakangan ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan isu-isu agama dimainkan sedemikian rupa sehingga mengganggu hubungan antar agama, yang padahal indonesia telah sekian lama dikenal sebagai negara yang beradab, menjunjung tinggi sopan satun dan gotong royong. Namun, hampir saja terpecahkan oleh kaum yang ingin memecah belah dengan memainkan isu agama demi kepentingan beberapa golongan/kelompok, Sungguh sangat miris sekali. Bahkan hari ini, agama seolah kehilangan makna generiknya. Pesan universal agama berupa keselamatan berubah menjadi teror yang menakutkan. Agama yang intisarinya merangkul dijadikan alat memukul. Agama yang substansinya ramah berubah menjadi amarah. Agama yang seruannya mengajak berubah menjadi media untuk saling ejek. Agama yang berupa nasihat berubah menjadi saling hujat. Agama yang seyogianya menjatuhkan malah berubah menjadi alat permusuhan. Bahkan agama yang semestinya menawarkan kesejukan, kini malah meyajikan kegersangan. Yang menjadi pertanyaannya sudahkah, umat beragama memahami visi dan misi universal tersebut? Inilah yang menyebabkan munculnya intoleran terhadap seseorang yang berbeda agama/keyakinan dengan kita. Yang seharusnya kita menanamkan toleransi agar bisa saling menghargai satu sama lain khususnya bagi yang berbeda keyakinan dengan kita. Namun, kini sebaliknya kita enggan bersama dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita, jangankan dengan yang beda keyakinan/agama yang satu agama/keyakinan pun rentan terjadi perpecahan dikarenakan perbedaan pendapat dalam masing-masing golongannya.

Akidah memang fondasi. Tiap umat beragama harus meyakini kebenaran agamanya masing-masing. Tiap agama juga memiliki seperangkat ajaran sebagai tiang bangunan agama. Tidak menjalankan ajaran agama berarti meruntuhkannya. Namun, yang tidak kalah penting dari fondasi dan tiang adalah atap bangunan agama seseorang, yaitu akhlak, moral, atau etika. (Rofi’udin 2019:6)

Indonesia harus memiliki cara berpikir dan bernarasi sendiri agar tidak terjebak dalam sekat ruang – sosial. Pada titik ini, moderasi sosio-religius sebagai integrasi ajaran inti agama dan keadaan masyarakat multikultural di indonesia dapat disinergikan denga kebijakan-kebijakan sosial yang dimbil pemerintah. Kesadaran ini harus dimunculkan agar generasin bangsa khususnya para pemuda bisa memahami bahwa Indonesia ada untuk semua. Maka dalam konteks ini , narasi pentingnya jalan tengah (the middle path) dalam beragama sebagaimana yang ditulis Fathhorrahman Ghuffron dalam “Mengarusutamakan Islam Moderat” memiliki nilai penting untuk terus digaungkan oleh tokoh agama, akademisi kampus yang memiliki otoritas, dan berbagai kanal media. Penggaungan narasi semacam itu khususnya untuk memberikan pendidikan kepada publik bahwa bersikap ekstrem dalam beragama, pada sisi manapun, akan selalu memicu benturan. (Edy Sutrisno 2019:30)

Admin

Pengurus situs pelajarnubanten.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *