INTERELASI EKOTEOLOGI DAN COVID -19

Oleh Akbaruddin (ketua PW IPNU Banten 2014-2017/Korwil PP IPNU Jawa 1)

Ekoteologi (teologi lingkungan) adalah ilmu atau pengetahuan yang membahas tentang teori inter-relasi antara pandangan teologis – filosofis yang terkandung dalam ajaran agama dengan alam, khususnya lingkungan. Teologi dalam konteks ini tidak hanya menyangkut aspek ketuhanan semata, tetapi juga memiliki dimensi ekologis. Dalam perspektif teologi, krisis lingkungan yang saat ini terjadi tidak lepas dari cara pandang manusia yang secara sadar ataupun tidak, telah mengubah ekosistem bumi menjadi terancam keseimbanganya. Ini kemudian disebut sebagai bencana kemanusiaan serta moralitas yang tengah melanda umat manusia hampir di seluruh penjuru bumi. Dengan kata lain, segala ketidakseimbangan dalam konteks alam macro (semesta) tidak selalu dikaitkan atas pendekatan ilmu pasti, tetapi juga harus di baca dalam pendekatan yang lebih intim dan mendalam, salah satunya adalah ‘Ekoteologi’sebagai instrumen mengembalikan kembali mentalitas manusia dalam memahami hubunganya dengan kehidupan lain di luar dari dirinya (manusia).

Selain itu, ekoteologi secara fundamental merupakan sebuah kajian pemikiran yang meletakan maindset manusia terhadap alam sebagai objek, dan apa yang ada di dalam pemikiran manusia itu membawa dampak bagi kelangsungan ekosistem lain yang non manusia (alam). Relasi manusia dengan alam bukanlah dua hal yang terpisah serta masing – masing mendapat perlindungan atau hak – hak yang berbeda. Manusia dengan alam sejak ribuan tahun lalu telah digambarkan oleh sejarah sebagai satu kesatuan yang saling terikat, melengkapi, membutuhkan, timbal balik, dan masing – masing berada pada dimensi estetis dan logis. Manusia misalnya, ia pasti butuh cadangan pangan dan kehidupan yang indah, maka alam hadir sebagai penawarnya. Manusia membutuhkan racikan obat untuk menyembuhkan berbagai jeni penyakit dan wabah, maka alam hadir dengan berbagai jenis tumbuhan dan tanamanya sebagai jawaban bagi manusia. Tetapi alam pun harus diletakan sebagai kehidupan non manusia yang memiliki jiwa, hak, dan tempat untuk dilindungi sehingga alam dapat melangsungkan kehidupanya bersama manusia secara adil dan tidak diskriminatif.

Ekoteologi mencoba menerabas hakikat keberadaan alam sebagai metafor lain dari wujud mahluk hidup yang bernafas dan bergerak diatas bumi. Dalam teori emanasi, Ibnu Sina berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan dalam keadaanya ada bukan adanya alam dari ketiadaan. Dengan kata lain dipahami bahwa alam ini adalah diciptakan. Karena alam itu diciptakan oleh Tuhan dan adanya ‘alam’ bukan karena dari ‘ketiadaan’, maka kewajiban setiap mahluk ciptaan Tuhan termasuk manusia adalah bagaimana memaknai alam sebagai subjek yang bergerak, tumbuh, dan berkembang, sebagaimana siklus tumbuh berkembangnya entitas lain diluar dari alam. Ibnu Sina menggaris bawahi teorinya sebagai alam yang memiliki jiwa, meskipun tetap ada perbedaan dengan manusia sebagai mahluk yang dapat berbicara, berfikir, menampar, mengintimidasi, dan bersikap sesuai kebebasan yang dikehendakinya.

Relasi Fenomenologi Dan Wabah  

             Sejak menyasar umat mansuia di seluruh dunia dalam kurun waktu 1,5 tahun ini, wabah Covid – 19 memang menjadi tantangan sekaligus ujian terberat bagi kehidupan manusia sampai saat ini. Gelombang jutaan manusia yang wafat terlindas secara continue oleh serangan virus Corona meninggalkan bekas yang perlu disterilisasi oleh kesadaran dan pemahaman baru terhadap kasus ini, Penulis mencoba merefleksi fenomena wabah Covid 19 dalam pandangan yang mungkin saja agak melebar dari pengetahuan medis dan mencoba menerjemahkan dari sisi lain, salah satunya adalah hubungan interelasi kaitanya dengan pendekatan ekoteologi. Pertama, sebagaiamana yang telah disinggung diatas bahwa ada dimensi lain yang mesti menjadi perhatian umat manusia dalam menangkap fenomea wabah ini, diantaranya adalah kita mesti mereduksi setitik pemahaman tentang potret ekologi yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari – hari.

Berapa banyakah lereng pegunungan yang di hancurkan atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi?,seberapa berat kerusakan alam kita saat ini dari pencemaran polusi, udara, dan air?, berapa ratus juta hektar deforestasi (pembalakan) hutan global yang terjadi diseluruh dunia saat ini?, atau masihkah kita dapat melihat lingkungan hidup tetap terjaga di kota – kota besar yang penuh dengan deretan gedung pencakar langit itu?, dan tidakkah kenaikan gas emisi pada lapisan ozon bumi tidak sama sekali mengikis keberadaan atmosfir di ruang galaksi?. Kerusakan ekosistem alam semesta justru berakar pada tingkah laku dan  cara pandang antroposentrisme manusia modern hari ini, bukan?.

Jangan – jangan, munculnya berbagai jenis wabah ini bersumber dari rusaknya keseimbangan ekosistem alam semesta yang telah dirampas dan dieksploitisir sedemikan besar oleh cara pandang antrosposentristik yang telah tertanam cukup lama dalam diri setiap individu manusia. Ada sebuah pandangan yang cukup koheren dengan interpretasi ini, salah satunya muncul dari seorang ulama sufistik Badiuzzaman Sayyid Nursi. Nursi menawarkan kesadaran spiritual atau cara pandang ekoteologi dalam memahami alam. Ia menegaskan bahwa ada relasi ontologis yang tidak dapat dipisahkan antara Tuhan dengan mahluknya. Artinya, eksistensi alam tidak dapat di pisahkan dari eksistensi Allah Swt yang merupakan pusat eksistensi. Dalam hubunganya dengan Tuhan, alam semesta merupakan manifestasi – manifestasi (tajaliyyat) Allah, atau secara tegas merupakan manifestasi dari sifat – sifat, nama – nama, dan tindakan (af’al), Allah. Sedangkan hubunganya dengan manusia, Nursi memahami alam sebagai tanda atau bukti yang paling kuat tentang keberadaan Allah Swt.

Kita dapat menarik satu kesimpulan yang agak umum dari penjelasan diatas bahwa, krisis ekologis yang terjadi sangat mungkin disebabkan oleh kesalahan manusia dalam memandang alam sekitarnya. Manusia bukanlah satu – satunya mahluk dibumi ini yang memegang otoritas paling tinggi, sehingga ia dapat dengan mudah melakukan apapun terhadap alam. Pandangan bahwa manusia memiliki kehendak bebas (otoritas) terhadap ekosistmen dibawahnya merupakan dasar dari sekian banyak terjadinya fenomena bencana dan kerusakan alam. Bahkan, Syyed Husen Nasr menegaskan dengan sangat jelas bahwa tragedi wabah, penyakit, dan bencana kemanusiaan lainya berakar dari kebebasan manusia memperlakukan alam dengan sangat tidak manusiawi. Sehingga alam melahirkan anak – anak haram, anak – anak haram inilah yang oleh Sayyed Husen Nasr disebut sebagai lahirnya banyak musibah, penyakit, dan wabah yang melanda umat manusia di seluruh dunia.

Akankah Wabah pandemi Covid 19 ini juga merupakan peringatan keras yang keluar dari kemarahan alam, yang sudah sekian lama diperlakukan secara brutal dan membabi buta oleh manusia?. Rangkaian perubahan zaman dari era batu sampai menuju ke era modern saat ini sepertinya telah merenggut orisinalitas ekosistem semesta yang kian lama kian berada di titik terburuk. Tuntutan hasrat menuju kehidupan yang mapan dan serba maju mungkin saja menjadi salah satu motivasi umat manusia akhir – akhir ini. Sehingga, alam menjadi objek paling produktif untuk dideforestasi sedemikan nyata tepat di depan mata kita. Ini mungkin sekelumit kritisisme dari sekian banyak tragedi kemausiaan, dan kerusakan lingkungan hidup yang tengah melanda umat manusia. Akhrinya, kita mungkin harus kembali kepada post perenungan untuk mereduksi nilai – nilai umum yang diberlakukan dari tingkatan yang paling tinggi (dunia), hingga ke tingkatan yang paling terbawah (individu masing – masing). Saya kira, ekoteologi akan sangat berguna untuk melandasi mentalitas dan cara pandang kita dalam memaknai interlasi antara Tuhan, Manusia, dan Alam semesta.

 

 

KONTRIBUTOR

PC IPNU KOTA TANGERANG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *