Usai

Malam ini hening, sepi juga sendiri. Sama halnya dengan diriku yang duduk terdiam didepan teras rumah ditemani secangkir teh hangat yang bunda buatkan khusus untukku. Suasana kembali membuatku mengingat dia. Ya, dia. Sebut saja dia Bagas.

Bagas adalah cinta pertamaku, persis seperti kata orang-orang bahwa cinta pertama memang susah dilupakan, apalagi dia singgah hampir Sembilan tahun. Perkenalan kami terjadi waktu aku dan dia masih SMP, kami dipertemukan ditempat les.

“Hi!” ucap Bagas

“Halo” jawabku

“Namanya siapa?” lanjut Bagas

“Aku Dinda”

“Namaku Bagas” lanjut Bagas sembari mengulurkan tangannya ke arahku.

Perkenalan kami seperti perkenalan-perkenalan orang lain pada umumnya. Menanyakan nama, kabar, asal juga hal lain yang sebenarnya tidak penting untuk ditanyakan.

Singkat cerita kami dekat, karena sering mengisi waktu bersama saat mengunggu waktu jemputan di tempat les. Waktu berjalan seiring dengan perasaanku yang semakin besar terhadapnya, kami akhirnya melanjutkan pendidikan di SMA yang sama. Kami menghabiskan waktu berdua tanpa tanggal jadian, semua berjalan begitu saja, mengikuti kemana semesta membawa aku dan dia melangkah.

Masa SMA aku isi dengan kehadiran Bagas di sampingku, aku melaluinya dengan banyak kebahagiaan karena Bagas punya itu. Ditengah kebingunganku memilih tempat untuk melanjutkan pendidikan, Bagas adalah orang yang selalu ada dan meyakinkanku akan pilihanku. Dia tempatku marah karena pilihanku ditentang orang tua, dia tempatku kecewa karena melulu ditolak oleh kenyataan, dia tempatku menangis karena lagi-lagi aku harus kembali berlari mengejar impianku, dia tempatku senang karena akhirnya apa yang aku mau dapat aku genggam.

Aku melanjutkan pendidikanku diluar kota, ditempat impianku dan di jurusan impianku pula. Namun ditengah rasa kebahagiaanku, aku seolah-olah dipermainkan oleh semesta, dimana aku bahagia disitu pula ada tangis yang harus hadir. Hari itu, aku dan Bagas menghabiskan waktu bersama karena seminggu lagi aku harus pergi dari kota yang penuh cinta ini.

Untuk pertama kalinya Bagas akan mampir sebentar di rumahku setelah mengantarku pulang. Iya, selama hampir empat tahun memang orang tuaku tidak tahu jika aku berhubungan dengan Bagas. Setelah tiba di rumah, raut wajah bunda berubah setelah melihat Bagas.

“Eh Bagas. Apa kabar?” sapa bunda

Alhamdulillah baik tante” jawab Bagas sembari menundukan kepalanya

Bunda hanya menyapa Bagas sebentar lalu masuk meniggalkan kami berdua di halaman tanpa mempersilahkan Bagas untuk masuk atau mampir sebentar. Bagas seperti menyadari raut wajah bunda dan ia memilih pamit untuk pulang.

“Din, aku pulang ya”

“Lho. Gak masuk dulu? Nanti ku buatkan kopi”

“Nggak deh, aku pulang ya. Ibu sudah menungguku dirumah”

“Yasudah kalau begitu, hati-hati ya”

Bagas langsung menyalakan motornya dan langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah kuucap hati-hati.

Malam harinya aku diajak bicara oleh bunda dan ayah, perasaanku saat itu sudah tidak tenang karena aku tahu kemana arah pembicaraannya. Sesuai dugaanku, malam itu orang tuaku marah, mereka marah aku berhubungan dengannya, mereka marah karena mereka pikir Bagas tidak pantas untukku. Mereka mengungkit latar belakang keluarga Bagas. Iya, Bagas memang berasal dari keluarga yang sederhana, tapi aku tidak pernah pedulikan itu. Yang aku tahu Bagas jauh dari apa yang orang tuaku pikirkan, ia laki-laki baik yang sudah menjagaku, mencintaiku dan menyayangiku selama hampir empat tahun terakhir.

Setelah kejadian malam itu, aku memutuskan untuk tidak menghubunginya dulu. Karena aku pikir aku butuh sembuh dulu dari sakit yang datangnya justru dari orang tuaku. Tapi keputusanku salah, tiga hari sebelum aku berangkat merantau, bagas menghubungiku dan memintaku untuk bertemu.

Akhirnya kami bertemu, aku terkejut saat Bagas datang dengan keadaan yang aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja.

“Din, kamu yang betah ya disana, yang fokus belajarnya. Beberapa hari lalu bunda dan ayah datang ke rumahku dan menyuruhku untuk menyudahi semuanya. Pokoknya apapun yang ada didepan, kapanpun kau butuh aku, aku akan selalu ada untukmu” ucap Bagas dengan lirih.

Ternyata orangtuaku sudah melangkah masuk terlalu jauh dalam hubungan dua remaja SMA kala itu. Pagi setelah pertengkaran aku dan orang tuaku, mereka datang ke rumah Bagas. Dengan tidak ramah mereka memaksa Bagas untuk menyudahi apa yang sudah aku dan dia mulai sejak empat tahun lalu. Dengan kata-kata yang rasanya aku tirukan saja aku tidak bisa. Mereka jauh tidak terhormat dibandingkan keluarga Bagas yang mereka bilang tidak punya kehormatan.

Akhirnya sore itu, Bagas memutuskan untuk menyudahi semuanya. Ia pergi begitu saja dengan segala luka bahkan aku tidak diberi kesempatan untuk mengobatinya. Dia pergi setelah memberiku banyak nasihat untuk menjaga diri ditempat aku merantau, dia pergi setelah janji akan kembali dengan Bagas versi terbaik, Bagas yang akan membuktikan bahwa ia pantas untukku yang bahkan aku sendiri merasa tidak lagi pantas untuknya.

Akhirnya aku harus pergi merantau saat itu, entah untuk melanjutkan pendidikanku atau pergi dari luka yang sumbernya ada di rumahku sendiri. Sejak saat itu, aku dan Bagas menjadi dua insan asing yang masih terikat hutang untuk kembali dengan dunia yang lebih baik. Bagas tidak melanjutkan pendidikannya, dia bekerja di ibukota dan sesekali menghubungiku hanya untuk memastikan keadaanku.

Di tahun terakhir masa kuliahku, Bagas untuk pertama kalinya menemuiku kembali setelah hampir empat tahun. Aku ingat betul hari itu hari kamis. Sore itu, didepan kamar kostku si pengisi hatiku selama hampir delapan tahun hadir didepan mataku. Aku menangis, setelah pertemuan terakhir kami di warung bakso dengan tidak baik, akhirnya semesta mempertemukan kami kembali.

Hampir setengah jam kami isi hanya dengan diam dan larut dalam kenangan masa lalu, sampai akhirnya ia membuka pembicaraan dengan lelucon yang sampai saat ini titik lucunya belum aku temukan.

“Gimana kabarnya?” tanya Bagas

“Aku baik, tidak seburuk terakhir kali kita ketemu” jawabku

“Wah, kostmu bagus ya. Kalau kita nikah belum tentu aku bisa menyewakanmu rumah sebagus kostmu ini. Aku kan miskin hehehe”

Aku terdiam, dari nada bicaranya aku tahu dia sedang bercanda, tapi dari makna katanya aku tahu dia sedang menyindir keadaan kami. Setelah saling melempar pertanyaan yang tertahan selama hampir empat tahun, akhirnya dia pamit pulang. Tapi aku benci keadaan itu, karena setiap pamit ia harus kembali lagi dengan waktu yang lama, karena setiap pamit ia harus meninggalkan pesan yang menyakitkan, karena setiap pergi ia meninggalkan janji yang bodohnya selalu aku tunggu pembuktiannya.

“Semangat kuliahnya. Mimpimu semakin dekat, gambar-gambarmu semakin menakjubkan. Aku tunggu kabar kelulusanmu, aku tunggu pula beasiswa S2nya ya. Oiya, lusa aku pergi ke sumatera, aku mau jadi buruh disana karena katanya gajinya besar. Aku mau bahagiain orang tua dan adikku, kamu juga harus begitu. Jangan terus menyimpan dendam untuk ayah dan bunda, walau bagaimanapun mereka tetap orangtuamu. Perbanyak waktumu untuk pulang, senyaman apapun kostmu, dirumah ada Nabila yang kangen dengan kakaknya. Aku pamit”

Seharusnya cerita sedih antara aku dan Bagas berakhir disana. Harusnya dia datang dan pulang ke pelukanku seperti janjinya. Tapi ternyata itu Cuma mimpi. Dia memang pulang, tapi tidak dengan keadaan hati yang sama.

Agustus 2020 kemarin dia pulang, aku senang karena ada sejuta cerita yang ingin aku sampaikan. Salah satunya, seperti harapannya ketika terakhir kali bertemu denganku. Aku diterima S2 diluar negeri.

Kami memutuskan bertemu di tepi laut dekat rumahku, aku bercerita panjang lebar tentang wisudaku, tentang S2ku, tentang aku yang mulai berdamai dengan ayah dan bundaku, sampai aku tidak sadar bahwa orang disampingku pikirannya ternyata tidak bersama raganya. Aku tanya kenapa, tapi bukan jawaban yang aku dapatkan, melainkan sebuah undangan berwarna biru muda berinisialkan B dan A. aku bingung, waktu seakan berhenti disana. Aku tanya lagi apa dan kenapa, tapi lagi-lagi dia diam. Ia hanya memandang laut dengan diam sambil perlahan air matanya jatuh.

“Dia. Dia yang gantiin posisi kamu, dia yang bulan Oktober nanti akan aku jadikan istri, dia adik kelas kita di SMA, dia yang selalu nemenin aku selama kau berjuang buat kamu, dia yang selalu ada padahal kamu yang sedang aku perjuangkan untuk ada. Maaf karena mengecewakan dan tidak bisa menepati janji. Karena seberusaha apapun aku, kita gak akan pernah bisa. Orang tuamu cukup berat aku terobos karena aku sudah terlalu hina dimata mereka. Jaga diri baik-baik ya, aku senang karena lagi-lagi kamu mendapatkan apa yang kamu mau. S2mu semoga berjalan lancar, semoga kamu dapat yang jauh lebih pantas dari aku. Segala keputusan yang aku ambil saat ini adalah demi kebaikan kita berdua. Jangan pikir aku jahat, egois dan gak sayang kamu, karena itu salah. Aku mencintaimu” jelas Bagas dengan mata yang tidak bisa lagi menahan air matanya.

Sejenak aku terdiam, rasanya duniaku hancur begitu saja. Bagasku yang selama ini selalu aku nanitikan ternyata memilih menyerah dengan keadaan dan kenyataan. Bagas memelukku erat begitupun aku.

22 Oktober kemarin, Bagas benar-benar pergi. Dia sudah milik orang lain. Aku datang ke hari bahagianya. Mau bagaimanapun, aku ingin melihat bagaimana hebatnya laki-laki yang aku cintai mengucap ijab kobul meski nama yang disebut bukan namaku. Dia tampan, terlihat sangat bahagia, tapi aku bingung harus ikut bahagia atau menunjukan perasaan asliku yang tentu aku yakin semua orangpun paham.

Ternyata kisah yang hampir sembilan tahun itu harus berakhir seperti ini. Tapi tidak apa-apa, dari Bagas aku belajar banyak. Terimakasih Bagas, aku menyayangimu.

Ku tengok gelas tehku, ternyata airnya sudah dingin. Aku habiskan tehnya lalu menyudahi ingatan akan cerita masa laluku. Semakin hari aku semakin banyak belajar berdamai dengan kenyataan.

Aku memutuskan untuk masuk ke kamar lalu mencoba menghapus kembali cerita ini yang tiada habisnya aku ingat. Tapi bukankah sesekali mengingat tidak apa-apa kan? Demi kedamaian hidup kita yang sudah berjalan masing-masing dan sudah berganti tokoh utamanya.

Sekian.

 

Oleh: Ulfa Musyarofah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *